***
"Apa ??? Harga tiket yang festival 75 ribu ??? Duit dari mana coba!!!" teriak hatiku saat mendengarnya.
Yeah, sebenarnya kabar harga tiket konser itu udah aku tunggu-tunggu sejak aku tahu kalo salah satu guest star-nya Vidi Aldiano. Tapi abis tau, malah shock jadinya. Aku pikir tiketnya cuma 30 ribu. Bener-bener nggak ada harapan lagi deh. Mungkin belum waktunya aku buat nonton perform Vidi Aldiano secara langsung.
Seperti biasa, pas lagi suntuk aku suka buka account twitter. Lumayan buat ngilangin stress sama komunikasi temen di luar kota. Aku cek mention. Ada mention dari Riri, salah satu Vidies Semarang (fansclub Vidi Aldiano).
J@riribestari : @maul_idaaa tiket Konser Nuansa Bening VVIP 200rbu, VIP 150rbu, Fest 75rbu. Kalo mau pesen bilang aku ya
@maul_idaaa : @riribestari Bentar ya, Ri. Aku masih bingung. Masalahnya 75 ribu, Ri. hehe
Cuma itu yang bisa aku jawab. Aku bingung harus jawab apa. Uang Rp 75.000,00 itu nggak sedikit buat aku. Belum kalo adikku pengen ikut, jadi Rp 150.000,00 deh. Aku kan bisanya cuma nodong orangtua. Apalagi dengan keadaan keluarga yang baru aja kena musibah. Nggak mungkin kan kalo aku minta uang ke ibu cuma buat nonton konser itu.
Beberapa hari setelah itu, aku mendapat mention dari Vidies yang lain. Isinya nanyain mau datang ke konser apa nggak. Dan aku cuma jawab sekenanya. Aku pikir lebih baik uang itu buat ngresmiin jadi Vidies. Tapi hatiku masih bimbang. Dan aku cuma berharap ada tiket untuk seorang pelajar seperti aku.
Tidak terasa waktu bergulir dengan cepat. Dan hari pun berganti.
Pagi ini aku bangun pagi sekali karena ada jam tambahan pelajaran. Aku pun bergegas mengambil air wudhu dan sholat. Setelah itu baru aku mandi. Sebelum mandi, aku sempatkan diri untuk melihat kalender di ruang tamu. Tertulis 4 November 2010.
"Ada apa ya ??? Tumben banget aku liat kalender", batinku.
Aku tepis rasa penasaranku itu. Aku pun bergegas mandi karena jam menunjukkan pukul 05.00 . Setelah berseragam lengkap, aku pun mengendarai motor untuk pergi ke sekolah. Kurang lebih lima belas menit, aku sudah sampai di sekolah. Suasana di kelas sudah cukup ramai. Sebagian sudah masuk dari tadi. Aku pun duduk dan mempersiapkan buku sebelum gurunya datang.
Saat aku sedang mempersiapkan buku pelajaran, tiba-tiba salah satu dari temenku memanggil.
"Da, kamu jadi nonton Vidi?", tanyanya.
"Nggak, Na. Tiketnya Rp 75.000,00 ", jawabku lesu.
"Lho??? Kamu ngga tau klo ada tiket buat pelajar ???"
"Emang ada ya, Na ?? Kamu tau dari siapa ???", tanyaku bersemangat.
"Kemarin Bulan nawarin tiket itu ke aku. Kata dia, temennya jual."
"Harganya berapa, Na???"
"Klo ngga salah dia bilang Rp 30.000,00 "
"Wah. aku mauuu.", teriakku
"Klo mau informasinya, kamu tanya langsung ke Bulan aja." sarannya.
Pembicaraan kita pun terhenti karena guru kami datang
***
Sepulang sekolah aku beristirahat sebentar. Sambil tiduran, aku kembali membuka twitter dan mengirim mention ke salah satu Vidies Semarang. Kak Tami namanya.
@maul_idaaa: ka @UtamiPratiwi besok jadi nonton ngga ?"
Tak lama dia jawab.
@UtamiPratiwi : @maul_idaaa Insya Allah :D kamu ???"
Aku menjawab sejujurnya
@maul_idaaa: kayanya nggak, Kak. Coz harga tiketnya itu lho, Kak .Mendingan buat ngresmiin Vidies dulu.
Setelah membalas mention Kak Tami, aku mengirim tweet kepada Info Semarang untuk menanyakan tentang tiket pelajar Konser Nuansa Bening. Setelah itu, aku langsung menutup account-ku karena aku harus bersiap untuk mengikuti bimbel di sekolah.
Sepulang bimbel, aku mengecek replies, barangkali ada balasan dari Info Semarang. Tapi ternyata tidak. Pupus sudah kesempatanku untuk menonton konser itu. Dan akhirnya aku memutuskan buat nggak nonton karena nggak ada tiket buat pelajar seperti apa yang dikatakan Riana.
Malam ini sehabis belajar, aku iseng bertanya kepada ibuku tentang Konser Nuansa Bening itu.
"Bu, boleh nonton konser Vidi Aldiano nggak ???"
Ibu hanya diam.
"Bu, boleh nggak ?”, rengekku.
"Ibu, udah bilang kalo waktu kemarin itu waktu terakhir kamu buat ketemu Vidi."
"Jadi jawabannya ??"
"Ngga boleh!!!", tegas Ibu.
Memang bulan lalu Ibu sudah bilang kalo kemarin itu kesempatan terakhirku untuk ketemu Vidi sebelum persiapan Ujian Nasional. Tapi waktu itu aku belum sempat foto berdua sama dia. Aku pikir Ibu mau menarik ucapannya yang dulu. Tapi... Ya sudahlah, kalo itu keputusan Beliau. Lagian aku juga udah ambil keputusan kalo lebih baik aku ngresmiin Vidies dulu.
Sebelum tidur, kubuka account twitter-ku. Kubaca timeline dari atas sampai bawah. Aku kaget membaca salah satu tweet dari Info Semarang. Mereka ngabarin kalo ada tiket konser untuk pelajar dan harganya cuma 35 ribu.
“Alhamdulillah. Ternyata masih ada harapan.”, batinku.
Kucoba lagi bertanya pada Ibu, barangkali Beliau berubah pikiran.
"Bu, boleh nonton konser ngga ??"
"Nggak boleh!!!"
"Tapi harga tiketnya cuma 35 ribu, Bu!!!", pintaku.
"Nggak boleh!!!", ucap Beliau tegas.
Pupus sudah harapanku. Ibu sudah mengetuk palu. Dan aku nggak bakal boleh datang. Aku cuma boleh ketemuan. Itupun kalo Vidi ada waktu, kalo nggak ???
Di saat seperti ini hanya twitter-lah yang menjadi sahabatku. Kutumpahkan semua uneg-uneg-ku
@maul_idaaa : sebenarnya agak tergoda sma tiket yg 35rbu. tapi ibu gak kasih ijin, ywdah deh mau gmna lagi :(
Kak Tami mencoba menghiburku.
@UtamiPratiwi: @maul_idaaa jgn sedih dek
Selepas membaca mention dari Kak Tami, entah kenapa dadaku terasa sesak. Dan bulir bening mengalir dari pelupuk mataku. Ada sesal dalam hatiku. Kututup account twitter-ku dan kucoba untuk menenangkan hatiku dengan tidur. Berharap besok ada sebuah keajaiban untukku.
***
Hari ini matahari tampak cerah. Tak seperti hatiku yang sedang mendung. Aku masih memikirkan masalah semalam. Sampai-sampai aku mengunci mulutku kepada Ibu. Sungguh sangat berdosa aku ini. Nggak sepantasnya aku marah dengan Beliau.
Untuk mengurangi kesedihanku, aku pun bergegas ke sekolah. Berharap suasana kelas membuat aku lebih baik daripada di rumah. Tapi apa kenyataannya ??? Nihil!!! Masalah itu masih saja terngiang-ngiang di benakku. Sebelum bel masuk, aku sempat membuka twitter untuk melihat barangkali ada mention dari temanku. Benar saja, ada mention dari Shelvi, sahabatku waktu SMP.
@shelvi_a : @maul_idaaa Da, nanti malam kmu liat Vidi gak ? temenku ada yg jual tiketnya.
@maul_idaaa : @shelvi_a ngga tau niy, Vi. Aku masih bingung. Di temen kmu brpa, Vi ??
Sehabis membalas, aku langsung menutup account twitter-ku karena bel masuk berbunyi.
Sepanjang jam pelajaran, aku tidak fokus. Pikiranku terbagi-bagi.Aku pun mencoba meminta saran kepada Chil, teman sebangkuku.
“Chil, gimana niy ??? Aku bingung ??”
“Bingung kenapa ??”,tanyanya.
“Itu lho Konser Nuansa Bening!! Aku pengen banget nonton. Tapi nggak dapat ijin!”, curhatku.
“Ya udah, mendingan kamu datang aja. Daripada nanti kamu nyesel. Lagian Vidi kan juga jarang ke Semarang. Kapan lagi kalo nggak hari ini, Da.”, sarannya.
“Lha ijinnya gimana ??”
“Yakin deh Ibu kamu pasti ngasih ijin.”
Aku menerima saran dari Chil.
Tak terasa jam pelajaran matematika selesai. Di sela-sela pergantian jam, aku mencuri waktu untuk membuka twitter. Ada mention dari Shelvi lagi. Dia jawab kalo harga tiketnya Rp 30.000,00 dan dia juga tertarik untuk nonton, tapi harus ada teman.
@maul_idaaa : pengen nekaaat! mumpung dpet 30rbu.
Itu update-an statusku sebelum aku menutup twitter karena guru pelajaran selanjutnya masuk.
Tett...Tett...Tett...
Bel istirahat pun berbunyi. Aku bergegas menemui Bulan untuk menanyakan masalah tiket itu.
“Bul, tiket konsernya masih ??”, tanyaku.
“Masih, tapi ada di temanku. Kamu mau pesan berapa??”
“Belum tau, Bul. Aku masih bingung. Apa gini aja, nanti sepulang sekolah aku kasih tau kamu berapa aku butuh itu tiket.”
“Mendingan gini aja, aku kasih nomor ponsel temenku aja ya.”
Bulan memberi nomor ponsel temannya itu kepadaku.
“Thanks ya, Bul.”, kataku.
Sepulang sekolah, aku pun langsung menghubungi teman Bulan dan memesan empat tiket untuk aku, Shelvi, dan dua Vidies Semarang lainnya. Dia menerima dengan senang hati dan menyanggupi untuk mengantarkan tiket itu kepadaku. Setelah mendapatkan tiket, aku pun kembali meminta ijin kepada Ibu.
“Bu, boleh ya, aku nonton konser. Aku nontonnya bareng Shelvi.”, pintaku kepada Ibu.
Ibu tak langsung menjawab. Sejenak Beliau berpikir.
“Ya sudah, tapi hati-hati ya.”
“Alhamdulillah. Terima kasih, Bu.”
Aku sangat senang. Sampai-sampai tak terasa kalo udah jam uadah nunjukin pukul 14.30. Aku pun bersiap-siap buat les fisika. Dengan hati yang senang, aku pun berangkat ke sekolah. Sesampainya di sana aku bertemu dengan temanku. Tapi mereka masih di luar.
“Berarti belum masuk, dong. Aminn.”, batinku.
Aku pun menghampiri mereka.
“Lho, kok ngga pada masuk ??? Ini kan udah jam tiga lebih ?”, tanyaku.
“Gurunya lagi rapat.”
Kami pun duduk-duduk di dekat pos satpam sekalian berteduh dari gerimis.
Tak beberapa lama kemudian, rapat guru pun selesai. Kami bergegas menghubungi guru pengampu. Dan hasilnya ??? Lesnya diganti jam.
“Yah tau gini mendingan nggak usah masuk deh!!!”, batinku.
Pukul 16.30, aku pulang ke rumah. Sesamapinya, aku langsung cabut ke Hotel Horison bersama adekku. Aku udah janjian sama Vidies Semarang dan Vidies Kudus yang sudah aku kenal dari twitter. Sesampai aku melihat Kak Aini, Vidies Solo yang udah aku kenal sejak empat bulan lalu. Dia bersama dua orang Vidies yang belum aku kenal.
“Hai Kak Aini!!”, sapaku.
“Hai Ida” jawabnya.
Pandanganku pun beralih ke dua orang Vidies yang belum aku kenal. Aku pun berkenalan dengan mereka.
“Shyka.”, ucap salah satu dari mereka sambil menjabat tanganku.
“Oh Shyka!! Aku Ida”, jawabku.
“Oh Kak Ida”
“Iya”
Aku pun beralih ke Kak Aini lagi
“Kak, gimana ??? Kita bisa ketemu Vidi ???, tanyaku.
“Barusan aku telpon Mas Puguh, tapi Vidi lagi istirahat jadi nggak bisa diganggu.
“Yahhh. Sebentar aja gitu kak. Masa nggak bisa ???”
“Masalahnya barusan aja Vidi siaran di radio dan dia baru balik ke hotel.”
“Lha trus mereka gimana, Kak ???”
“Nggak tau aku juga bingung.”, kata Kak Aini.
“Nonton aja gimana dek ?”, ceplosku pada Shyka.
“Yahh. Jam 6 nanti travelnya udah jemput, Kak. Kakak nonton ???”
“Insya Allah”
Kak Aini langsung menatapku begitu mendengar jawabanku untuk Shyka.
“Ida, kamu nonton ??? Wah bakal tambah rame nih”, sambung Kak Aini.
Tak lama, datang Jane dan Mama-nya disusul Kak Tami. Mama Jane sempat bertanya ke Kak Aini soal Vidi.
“Aini, ketemunya gimana ?”, tanya Mama Jan.
“Nggak bisa, Tante. Vidi-nya baru istirahat. Jadi nggak bisa diganggu.”
Mama Jane pun mencoba menelpon Mas Puguh. Dan jawabannya sama. Vidi nggak bisa diganggu.
Kalo aku nggak ketemu nggak mah terlalu masalah. Tapi masalahnya ada Vidies yang jauh-jauh dari Kudus. Kasihan kan kalo sampai nggak bisa ketemu. Kami pun memberi tawaran buat Shyka untuk ikut nonton. Barangkali habis konser, Vidi bisa nemuin kita. Akhirnya Shyka dan temannya memutuskan untuk membatalkan travel pesanannya dan lebih memilih melihat konser. Nggak peduli nanti bagaimana pulangnya.
“Trus tiketnya gimana ??” tanya Shyka.
“Coba aku tanyain temenku deh. Kayanya tiket dia masih. ” sambung Kak Tami.
Beberapa saat kemudian Kak Tami udah on the phone sama temennya.
“Ada yang tau Giant dimana ???”, tanya Kak Tami.
“Aku, kak!!!”, balasku.
“Oke, anterin aku ya. Tiketnya harus diambil di sana.”
Aku pun bergegas ke Giant karena udah maghrib dan hujan mulai turun.
“Vi, cepetan, yuk!”, ajakku kepada Shelvi setelah memarkirkan motor.
Aku dan Shelvi mempercepat langkah menuju depan Hotel Horison untuk bertemu dengan beberapa Vidies. Untung saja terkejar. Mereka baru akan menuju Krakatau Ballroom. Mereka adalah Kak Retno, Kak Devy, Kak Aini, Kak Tami, Jane, Gita, Shyka, dan Icha. Sayang Riri nggak bisa ikut karena dia sakit.
“Mereka semua teman Vidies kamu, Da ?”, tanya Shelvi keheranan.
“Iya.”, jawabku.
Dengan diantar satpam, kami pun menuju lift untuk ke lantai 6. Sesampainya di atas, sudah banyak orang yang mengantre buat masuk. Beberapa dari kami masuk duluan dan yang lain menyusul. Setelah masuk, kami naik menuju tribun. Dan sempat shockk. Gimana bisa liat Vidi dengan jelas kalo ada di sini. Kami pun memilih tempat duduk yang kami anggap nyaman. Sekitar pukul 19.30, , acara dibuka dengan penyanyi lokal bernama Adelia Lukmana. Di konser ini juga ada acara lelang untuk membantu korban Merapi.
Setelah penampilan Adelia Lukmana, kemudian disambung dengan penampilan Judika. Begitu Judika ke atas panggung, para penonton berteriak-teriak menyuarakan nama Judika. Karena nggak terlalu tahu lagu Judika, Aku dan Shelvi cuma duduk tenang. Sejujurnya aku hanya menunggu penampilan Vidi.
Karena bosan, aku pun membuka twitter dan meng-update beberapa status dilanjutkan ngobrol bareng Shelvi.
“Kak Vidi masih lama ya, Da ??”
“Iya. Dia perform jam setengah sepuluh.”, jawabku
Shelvi melihat jam di ponsel-nya.
“Yah, masih sejam lagi dong.”
“Iya, niy.”, jawabku lesu.
Penampilan Judika juga diselingi dengan acara lelang untuk korban Merapi.
Satu jam pun berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
“Ya Allah, Vidi mana ?? Padahal ini kan udah jam setengah sepuluh”, kataku.
“Iya, habis ini kali, Da.”, balas Shelvi.
“Padahal udah ngantuk nih”
Beberapa saat setelah itu, Judika turun panggung dan diganti dengan MC. Nggak lama anggota Chimot ( band pengiring Vidi ) pun naik ke atas panggung. Dan akhirnya sosok yang aku tunggu-tunggu pun muncul. Aku pun bergabung bersama Vidies yang lain. Kita berteriak dan bernyanyi bersama-sama. Nggak peduli dilihatin banyak orang. Karena nggak terlalu kelihatan, beberapa dari kami naik ke atas kursi. Untung aja nggak dimarahin sama satpamnya.
Pada pertengahan penampilan Vidi, kami memutuskan untuk ke tempat VIP. Kak Aini, Kak Retno, Kak Tami sama Jane bahkan berhasil menerobos sampai ke VVIP. Sedangkan aku, Shelvi, Icha, Shyka, Gita, dan Kak Devy tertahan oleh satpam. Kami pun memutuskan untuk kembali ke tribun. Pada saat di tribun, aku mendapat pesan dari Kak Retno, kalo sehabis acara kita semua bisa ketemu Kak Vidi.
“Alhamdulillah”, batinku.
Sebelum perform Vidi yang terakhir, Kami mencoba turun dan mendesak satpam untuk memperbolehkan kami masuk. Akhirnya satpam itu pun luluh dan membebaskan kami untuk ke bagian VIP. Baru saja kami mau duduk, Kak Vidi mengajak semua penonton untuk ke depan panggung. Kontan aku dan penonton lain menuju depan panggung dan kami semua bernyanyi bersama. Penampilan Kak Vidi ditutup dengan medley, lagu Billionaire dan Just The Way You Are.
Kami keluar dari ruangan dan menunggu kabar lebih lanjut dari Mas Puguh, manager Vidi. Setelah menunggu lumayan lama, kami mendapat kabar kalo tempat ketemuannya di Hotel Horison lantai 5. Kita sempat beberapa kali nyasar. Sampai akhirnya satpam penjaga lift nganterin kita ke lobby hotel. Baru sampai depan hotel, kami dihadang oleh satpam hotel.
“Ini ada apa rame-rame?”, tanya satpam.
“Kita mau ketemu Vidi.”, jawab Kak Retno.
“Maaf, ini bukan kewenangan saya untuk mengijinkan kalian ketemu.”
“Tapi kita udah janjian sama manager-nya, Pak.”
Akhirnya satpam itu mengijinkan kami masuk. Rupanya kami sudah ditunggu Kak Vidi. Satu persatu dari kami pun giliran berfoto bersama Kak Vidi. Subhanallah, keramahan Kak Vidi nggak luntur. Karena jam sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi, kami memutuskan untuk mengakhiri pertemuan. Sebelum pulang, kami sempat meminta video record untuk Riri yang baru sakit. Kami juga tak lupa berfoto bersama.
Hari itu benar-benar berkesan untukku. Dan khayalanku selama ini pun menjadi kenyataan. Aku benar-benar bertemu Vidi Aldiano. Tak hanya bertemu, aku bahkan dapat berfoto dengannya. Rasanya seperti mimpi saja.
Oh
yaa,, cerpen itu berdasarkan kisah nyata. Cuma ada beberapa yang aku lebihin..
Oh yaa pas waktu itu,, aku dapet oleh-oleh lho!!!!
Dha...










No comments:
Post a Comment