October 8th, 2015
Pukul 4.00 pagi, ponsel ibu berbunyi. Ternyata panggilan dari adik laki-laki ibu. Beliau hanya mengatakan "mbak mbah kung ora ana" (mbak, mbah kung sudah tidak ada), kemudian menutup telepon. Seketika aku terbangun dari tidur. Sebenarnya berita ini memang tidak terlalu membuatku shock mengingat kondisi Beliau selama satu tahun belakangan ini yang hanya bisa bed rest. Mungkin memang ini jalan terbaik dari Allah SWT untuk Beliau agar tidak lagi merasakan sakit. Ibu pun memberi kabar kepada adik-adiknya yang berada di kota yang sama. Saat itu perasaan sedih menyeruak mengingat Beliau sangat sayang dan peduli dengan semua cucunya. Dan yang amat membuat hati teriris adalah hari itu merupakan hari wisuda adik sepupuku dimana dia dinobatkan menjadi wisudawan terbaik di jurusannya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya pada saat itu. Karena sebelumnya aku sudah janji untuk menemani wisuda, akupun tinggal sementara ibu dan satu adiknya bertolak ke rumah simbah di luar kota. Ibu sampai di rumah simbah saat simbah hampir dikebumikan. Sedangkan aku baru saja menuju luar kota saat jenazah simbah dikebumikan. Dan aku tidak bisa melihat mbah kung untuk yang terakhir kalinya. Semoga Beliau mendapat tempat yang baik di sisi Allah SWT. Segala amal ibadah selama hidup diterima dan diampunkan segala dosa-dosanya. Amin
October 24th, 2015
Malam sebelumnya ponselku berdering dari nomor yang tidak dikenal. Dengan ragu kuangkat ponsel itu, ternyata kakak sepupuku dari pihak keluarga bapak yang menelpon. Dia berkata "da, simbah sakite nemen ki" (da, simbah sakitnya tambah parah ini). Dan setelah menutup telepon, ibu memutuskan untuk besok berboncengan ke rumah simbah.
Pukul 01.30, ponsel ibu berbunyi ternyata dari adik perempuan bapak. Mengabarkan bahwa simbah sudah meninggal dunia. Sama seperti mbah kung dari ibu, simbah juga sudah satu tahun lebih hanya bisa berbaring di ranjang saja. Dan mungkin ini sudah jalan dari Allah SWT agar simbah tidak merasakan sakitnya lagi. Paginya kami bertolak ke luar kota, ibu memakai bus dan aku beserta adek mengendarai motor. Sesampai disana, jenazah sudah siap untuk disholatkan. Dan lagi akupun tidak bisa melihat simbah untuk terakhir kalinya. Semoga Beliau mendapat tempat yang
baik di sisi Allah SWT. Segala amal ibadah selama hidup diterima dan
diampunkan segala dosa-dosanya. Amin
October 30th, 2015
Pukul 3.00 pagi aku terbangun mendengar suara alarm yang biasa aku pasang. Akupun mematikan alarm dari ponselku. Terdapat satu pesan dari salah satu sahabat SMA-ku. Begini isinya "Da, katanya riana ndak ada. Aku padahal baru ketemu tadi habis Isya jam 8 !!! Aku ndak percaya da". Dia mengirimkan kabar ini pukul 23.30. Seketika shock aku mendengarnya. Bagaimana tidak, setahuku dia dalam kondisi yang baik-baik saja dan tak pernah mengeluh sakit. Riana atau biasa kupanggiladalah salah satu "Enching"-sahabat SMPku. Dia anak yang pintar dan baik, dia baru saja mendapatkan gelarnya bulan lalu. Kepergiannya begitu cepat sehingga membuat shock keluarga dan teman-temannya, mengingat kondisinya yang baik-baik saja. Allah SWT pasti lebih sayang sama dia. Insya Allah dia khusnul khotimah mengingat dia meninggal pada Kamis malam Jumat. Dan ternyata pada hari itu dia melaksanakan puasa sunnah Senin-Kamis.
Aku merasa menyesal karena belum sempat bertemu dengannya selepas kelulusan SMA. Komunikasi terakhir dengan dia sebulan yang lalu saat aku mengomentari foto wisudanya. Dia sempat bilang "Da, kok aku ngga pernah ketemu kamu". Tak tahu apakah ini sebuah pertanda, entahlah. Dan yang membuat lebih sedih, aku tak bisa melayat dan mengantarkannya ke tempat peristirahatannya karena sedang terikat training. Aku hanya bisa berdoa semoga amal ibadah selama di dunia diterima dan segala kesalahan diampuni oleh Allah SWT. Amin.
Entahlah tak pernah berpikir bahwa bulan ini akan menjadi bulan kelam. Rentetan kabar duka begitu mengagetkanku. Memang benar takdir itu hanya rahasia Allah SWT. Manusia tak akan bisa mengetahui kapan waktunya telah tiba. Bisa saja orang yang sakit parah masih hidup, tetapi orang yang terlihat sehat walafiat bisa pergi lebih cepat. Kita sebagai manusia hanya wajib mempersiapkan bekal untuk kembali kepada Allah SWT. Tentunya bukan harta benda yang kamu miliki, tetapi amalan kamu selama hidup.
October 30th, 2015
Pukul 3.00 pagi aku terbangun mendengar suara alarm yang biasa aku pasang. Akupun mematikan alarm dari ponselku. Terdapat satu pesan dari salah satu sahabat SMA-ku. Begini isinya "Da, katanya riana ndak ada. Aku padahal baru ketemu tadi habis Isya jam 8 !!! Aku ndak percaya da". Dia mengirimkan kabar ini pukul 23.30. Seketika shock aku mendengarnya. Bagaimana tidak, setahuku dia dalam kondisi yang baik-baik saja dan tak pernah mengeluh sakit. Riana atau biasa kupanggiladalah salah satu "Enching"-sahabat SMPku. Dia anak yang pintar dan baik, dia baru saja mendapatkan gelarnya bulan lalu. Kepergiannya begitu cepat sehingga membuat shock keluarga dan teman-temannya, mengingat kondisinya yang baik-baik saja. Allah SWT pasti lebih sayang sama dia. Insya Allah dia khusnul khotimah mengingat dia meninggal pada Kamis malam Jumat. Dan ternyata pada hari itu dia melaksanakan puasa sunnah Senin-Kamis.
Aku merasa menyesal karena belum sempat bertemu dengannya selepas kelulusan SMA. Komunikasi terakhir dengan dia sebulan yang lalu saat aku mengomentari foto wisudanya. Dia sempat bilang "Da, kok aku ngga pernah ketemu kamu". Tak tahu apakah ini sebuah pertanda, entahlah. Dan yang membuat lebih sedih, aku tak bisa melayat dan mengantarkannya ke tempat peristirahatannya karena sedang terikat training. Aku hanya bisa berdoa semoga amal ibadah selama di dunia diterima dan segala kesalahan diampuni oleh Allah SWT. Amin.
Entahlah tak pernah berpikir bahwa bulan ini akan menjadi bulan kelam. Rentetan kabar duka begitu mengagetkanku. Memang benar takdir itu hanya rahasia Allah SWT. Manusia tak akan bisa mengetahui kapan waktunya telah tiba. Bisa saja orang yang sakit parah masih hidup, tetapi orang yang terlihat sehat walafiat bisa pergi lebih cepat. Kita sebagai manusia hanya wajib mempersiapkan bekal untuk kembali kepada Allah SWT. Tentunya bukan harta benda yang kamu miliki, tetapi amalan kamu selama hidup.








No comments:
Post a Comment