Banyak sekali orang yang mengatakan seperti itu. Tapi tidak bagiku. Karena untukku masa SMA merupakan masa yang sulit. Kenapa?
Di tahun pertama, aku masuk kelas yang di dalamnya banyak anak-anak yang pintar. Banyak yang menyebut bahwa kelasku adalah kelas unggulan. Hal itu membuatku banyak saingan untuk memperoleh peringkat dan akhirnya aku harus rela tidak mendapatkan peringkat.
Di tahun kedua, Alhamdulillah aku masuk kelas IPA. Dannn ternyata aku sekelas sama "cowok itu". Awalnya enjoy di kelas ini, tapi setelah beberapa bulan aku mulai ngga nyaman. Why? Karena sebagian besar dari temanku bestatus sosial tinggi dan suka buat hangout. Sedangkan aku sendiri, kurang menyukai hal seperti itu. Dan itu benar-benar mempengaruhi diriku. Ditambah ayahku yang harus terbaring di rumah sakit. Soal ayahku itu hanya teman dekatku (Anisa, Alm. Ayu, Chil, dan Sinta) saja yang tau. Hanya mereka. Di tahun ini prestasi pun biasa-biasa aja, hanya saja dalam beberapa ulangan kimia aku mendapat nilai lebih baik dibanding yang lainnya.
Di tahun ketiga, aku bertemu lagi dengan teman-teman pintar di tahun pertama. Ada senangnya soalnya bisa minta diajarin. Tapi di tahun ini merupakan tahun yang sangat berat. Karena pikiran banyak terbagi untuk dirumah, nilai semester pun anjlok dan menjatuhkan aku ke peringkat paling akhir. Ini benar-benar hal yang sangat memalukan untukku. Dan hari yang sangat berat pun datang di sela-sela tryout UN. Ayahku meninggal tepat di saat ulang tahun salah satu teman dekatku sejak SD, Shelvi. Aku mencoba berpikir positif. Mungkin ini jalan terbaik untuk ayah, karena Beliau sudah lama merasakan sakit yang tak kunjung sembuh. Dan sejarah bagiku, NEM untuk tingkat SMA-ku hanya 7 lebih saja, tidak sebanyak saat SMP maupun SD. Yah, inilah aku, memang prestasiku sangat tergantung dengan keadaan.
Itulah alasanku kenapa aku tidak setuju bahwa "SMA merupakan masa yang paling indah". Semoga pembaca lebih beruntung dariku.
Mungkin setelah ini, bakal share soal masa SMPku dulu.. Tunggu yaa








No comments:
Post a Comment