Pages

A Story #2

Alhamdulillah kelas baru, suasana baru. Berharap akan lebih baik dari sebelumnya. Tetapi beberapa minggu setelah masuk, aku mendapat kabar bahwa salah satu teman dekatku harus menghadap Sang Khalik. Begitu cepat orang baik Engkau ambil. Yah mungkin ini terbaik untuk dirinya.
Aku mencoba mengirim pesan kepadanya. Perihal? Acara untuk mendoakan temanku sekaligus bersilaturami. Kukirim dengan sedikit agak malas, dan kau jawab dengan sangat singkat. Di hari itu, aku mendengar kau mencariku padahal aku membelakangimu. Entahlah, mungkin aku yang salah dengar atau aku yang terlalu berkhayal. Yasudah lupakan saja.
Setelah acara itu pertemanan kembali dingin,, hingga di hari yang sangat berat untukku, saat ayahku meninggal. Kehadiran dirimu sedikit cukup menghiburku. Beberapa bulan setelah itu, aku mendengar berita duka tentang adikmu. Bukannya aku ngga care sama kamu, cuma aku belum siap untuk bertemu sendiri denganmu tanpa teman dekat di sampingku. Sebenarnya ada rasa bersalah dari hatiku karena tak bisa menyambangimu. Aku hanya bisa mengirim message belasungkawa, berharap itu dapat sedikit menghiburmu.
Tahun berganti dan aku masih saja mengingatmu. Kucoba mencari cara untuk menghubungimu dan di bulan April lalu aku menghubungimu untuk meminjam buku yang dahulu belum selesai aku baca. Sekitar dua minggu setelah itupun aku baru menerima buku itu darimu dengan sedikit ketegangan dan keharuan yang membuat aku merasa salah padamu lagi (read >> I Just Wanna Say I'm Sorry Boy). Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu padamu. Aku hanya "teman jauh" bukan "teman dekat" bagimu.
Setelah beberapa bulan saat buku ini akan kukembalikan, kau pasti selalu sibuk. Dan saat bulan puasa kemarin tak menyangka aku bisa bertemu dengan tidak sengaja. Hal itu sukses membuatku salting, kaki lemas, dan tangan dingin. MALU. Yah itu yang aku rasakan. Dan disaat aku berpapasan aku hanya bisa menyapamu dengan tersenyum karena kamu begitu dingin.
Beberapa hari setelah itu, kulihat pesanmu di layar handphone-ku. Dan kau meminta bertemu untuk mengembalikan bukumu saat buka bersama dengan teman yang lain. Kaupun mengajakku untuk bergabung. Hanya saja aku kurang nyaman bila tidak ada teman yang benar-benar dekat di sampingku, akupun menolak ajakannya. Namun aku tidak membatalkan untuk mengembalikan bukunya.
Hari itupun tiba, kutunggu kamu di epan gang sekolah kita dulu. Aku tidak berani masuk karena sekali lagi aku tidak enak dengan yang lain. Kuminta kamu untu menghampiriku. Kamu jawab tunggu. Dan tak berapa lama, ternyata kamu keluar bersama teman yang lain. Sontak aku kaget,, benar-benar merasa tidak enak dengan yang lain. What happened with you boy? Apa kamu terlalu pengecut untuk sekadar bertemu sebentar denganku? Dan apa maksudmu dari semua ini? Tidakkah kau melihat teman yang lain menatap dengan heran? Kau?? Hanya senyum-senyum saja tanpa alasan sedangkan diriku dipenuhi rasa tidak enak dengan yang lain dan yang paling mengherankan kenapa kamu tidak membawa tas untuk menyimpan bukumu itu? Kau membuatku semakin bertanya-tanya.. What's wrong with you, boy?
Malam itu aku mendapat message ucapan idul fitri darimu, aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Berharap ini awal yang baik.

To be continue or The End ???
I don't know, I hope this is not ending but beginning for my story...

No comments: