Aku
terlahir dari keluarga pendidik. Ibuku adalah seorang guru dan almarhum ayahku
dulu juga seorang guru. Tak hanya mereka, bahkan kakekku pun juga pensiunan
guru. Dan sampai sekarang Beliau masih mengajar di sebuah Madrasah Diniyah di
Kabupaten Rembang. Beberapa paman dan bibiku pun merupakan seorang guru di
sebuah sekolah dasar. Karena hal itu aku jadi mengetahui beberapa hal mengenai
seorang guru yang sebelumnya aku tak tahu. Dari begitu mulianya tugas Beliau,
beratnya tugas yang diemban Beliau, hingga maaf penghasilan yang Beliau dapat dari
kerja keras setiap harinya. Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan
sedikit tentang kehidupan salah satu keluarga guru dari sekian banyak keluarga guru
yang ada di Indonesia.
Raut
wajah pria itu tampak lelah namun hal itu tak menyurutkan Beliau untuk mencari
tambahan untuk biaya sekolah kedua putrinya. Penghasilan yang Beliau dapatkan
masih kurang untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah walaupun istri Beliau
juga bekerja. Beliau merupakan seorang pendidik di sebuah SMP swasta di Kota
Semarang sekaligus ayahku. Beliau merupakan pengajar mata pelajaran bahasa jawa
dan bahasa arab. Walaupun Beliau merupakan lulusan Tarbiyah (keguruan Islam),
namun Beliau juga diminta untuk mengajar bahasa jawa yang notabenenya bukan
merupakan bidangnya. Begitulah kebanyakan sekolah sekarang yang menempatkan
guru tidak sesuai dengan bidangnya. Kembali lagi ke pokok cerita, selain
mencari pekerjaan tambahan ayahku juga tak malu untuk mengusahakan beasiswa
untuk anaknya karena Beliau merasa keberatan atas biaya sekolah anaknya.
Untungnya saja sang anak termasuk siswa berprestasi di sekolahnya.
Namun
beberapa tahun setelah itu Beliau merasakan ada yang tidak beres dengan
badannya. Dan untuk beberapa hari Beliau harus rawat inap. Setelah peristiwa
itu, Beliau pun keluar-masuk setiap dua tahun sekali hingga puncaknya pada
tahun 2010 lalu. Beliau sudah tak bisa mengajar hingga tugas Beliau harus
digantikan oleh guru luar. Karena hal itu, praktis Beliau sudah tidak
mendapatkan penghasilan karena penghasilan tersebut dialihkan kepada guru
penggantinya. Maklum saja Beliau merupakan guru SMP swasta yang menggantungkan
penghasilan dari biaya sekolah siswanya. Beberapa bulan setelah itu, Beliau
diambil oleh Allah SWT untuk selama-lamanya. Dan sejak saat itu kehidupan kami
pun berubah.
Sepeninggal
ayah, ibuku pun menjadi tulang punggung keluarga untuk kami (aku dan adikku). Ibuku
merupakan guru SD swasta yang masih satu yayasan dengan sekolah almarhum ayahku
dulu. Ibu merupakan pengajar Agama Islam di sekolah tersebut. Selama Ibu mengajar,
beberapa dari siswa Ibu sukses menjuarai lomba di tingkat kecamatan maupun
kota. Setiap harinya Ibu selalu berangkat pagi dengan menggunakan sepeda karena
jarak dari rumah tidak terlalu jauh. Dan pulang pada siang hari selepas shalat
Dzuhur bahkan tak jarang Ibu pulang hingga sebelum Ashar. Kalau dilihat dari
rutinitas ibu, bisa dibayangkan bagaimana beratnya tugas seorang guru. Beliau
harus menopang tugas berat agar kelak siswanya menjadi penerus bangsa ini. Namun,
penghasilan yang diperoleh menurutku kurang sebanding dengan kerja kerasnya
setiap hari. Penghasilan Beliau jika dilogika tak mungkin cukup untuk makan
selama sebulan dan biaya untuk kami. Namun Ibu selalu mengatakan bahwa Allah
SWT itu kaya jadi tidak usah takut jika suatu saat kami kekurangan pasti Allah
SWT memberikan rezeki melalui jalan lain.
Itulah
sedikit cerita dariku tentang salah satu kehidupan guru di negeri ini. Mungkin
hidup kami masih lebih beruntung dibandingkan dengan kehidupan guru yang berada
di pelosok negeri. Aku hanya berharap semoga untuk kedepannya kesejahteraan
guru lebih ditingkatkan mengingat tugas Beliau yang sangat berat yaitu mendidik
penerus bangsa ini.









No comments:
Post a Comment