Ujian Nasional di Mata Saya
Ujian Nasional merupakan ujian yang diperuntukkan bagi siswa tingkat akhir di SMP dan SMA. Bahkan mulai setahun lalu diberlakukan juga untuk tingkat SD. Ujian Nasional berfungsi untuk menilai status pendidikan siswa di masing-masing wilayah di Indonesia. Naskah soal ujian dibuat berdasarkan kurikulum yang berlaku. Naskah tersebut berasal dari pusat dan diperuntukkan untuk semua siswa. Hal tersebut berarti naskah Soal Ujian berlaku untuk semua siswa di Indonesia tanpa terkecuali kota besar maupun pelosok negeri. Menurut saya hal tersebut tidak adil karena tidak semua siswa mendapat fasilitas dan pengajaran yang sama walaupun dengan kurikulum yang sama.
Fenomena Ujian Nasional
Beberapa tahun belakangan ini Ujian Nasional menjadi kekhawatiran dan ketakutan tersendiri terlebih untuk siswa tingkat akhir SMP dan SMA. Sistem pendidikan di negara ini menjadikan Ujian Nasional sebagai tolok ukur kelulusan siswa dengan naskah soal sebanyak dua paket (sekarang menjadi empat paket). Hal ini menjadi polemik besar. Banyak siswa yang bertanya-tanya mengapa hasil mereka belajar selama tiga tahun hanya dihargai dengan empat hari mengerjakan Ujian Nasional. Untuk apa mereka bersusah payah belajar selama tiga tahun kalau cuma ditentukan dengan empat hari saja.
Semenjak ditetapkannya sistem tersebut banyak masalah yang ditimbulkan. Di antaranya adalah banyak anak yang mengalami sakit karena stress menjelang Ujian Nasional. Bahkan yang paling mengkhawatirkan adalah beberapa dari mereka ada yang memutuskan mengakhiri hidupnya karena mereka tidak kuat menghadapi Ujian Nasional dan menghadapi hasilnya kelak.
Karena banyak masalah yang ditimbulkan, Kementerian Pendidikan pun mengkaji ulang sistem Ujian Nasional tersebut. Hasil pengkajian tersebut di antaranya tolok ukur kelulusan ditentukan oleh 40% dari hasil rapor selama belajar di sekolah dan 60% dari Ujian Nasional. Hal tersebut cukup membantu siswa untuk mencapai kelulusan. Yang paling diuntungkan dari kebijakan ini adalah sekolah favorit yang mematok KKM (Kriteria Kelulusan Minimal) tinggi sehingga membantu siswa mendapatkan nilai yang maksimal. Sebaliknya, sekolah berstandar biasa yang notabenenya memiliki KKM di bawah sekolah favorit harus bekerja keras dalam Ujian Nasional untuk mencapai nilai yang maksimal.
Berbagai Dampak Ujian Nasional
Setiap kebijakan yang ditentukan pasti memiliki dampak postif dan negatif. Bahkan kebijakan pendidikan ini pun memiliki dampak. Dampak tersebut berpengaruh terhadap perilaku dan mental siswa kelak di masa yang akan datang.
Dampak positif dari Ujian Nasional adalah Kementerian Pendidikan dapat mengetahui status pendidikan masing-masing wilayah di Indonesia. Status pendidikan tersebut dilihat dari rata-rata Ujian Nasional dan prosentase kelulusan siswa di wilayah tertentu. Penilaian tersebut sangat bermanfaat untuk menentukan tindakan yang harus dilakukan untuk menaikkan status pendidikan di wilayah tersebut. Selain itu nilai positif dari Ujian Nasional adalah dapat mendorong siswa agar lebih giat untuk memperoleh suatu tujuan tertentu.
Selain itu, dampak negatif yang ditimbulkan dari Ujian Nasional di antaranya praktik korupsi kecil atau kecurangan yang dilakukan oleh beberapa oknum guru di sekolah bekerja sama dengan oknum yang tidak bertanggungjawab. Ada beberapa oknum guru di sekolah membeli kunci jawaban Ujian Nasional kepada oknum tersebut. Praktik tersebut sudah menjadi rahasia umum saat dilaksanakannya Ujian Nasional. Mereka beralasan membeli kunci tersebut agar siswa mendapat nilai dan rata-rata yang tinggi sehingga pamor sekolah tersebut menjadi baik. Hal tersebut melenceng dari sebutan guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Perbuatan tersebut sangat mencoreng nama baik guru dan juga menjerumuskan siswa untuk bertindak curang. Namun kalau dilihat sepertinya beberapa pihak masih tutup mata terhadap praktik ini. Padahal dengan adanya praktik ini, siswa dilatih berbuat curang untuk mendapatkan sesuatu hal dan dampaknya akan buruk untuk mereka ke depannya.
Saya rasa cukup saya bercerita sedikit mengenai Ujian Nasional. Saya hanya berharap agar Kementerian Pendidikan mengkaji ulang kembali melihat banyak kecurangan pada Ujian Nasional. Dan juga mencoba menerapkan sistem yang lebih baik agar tidak menimbulkan praktik korupsi kecil di kalangan siswa. Saya mohon maaf apabila cerita dan pendapat saya ada yang menyinggung beberapa pihak. Kembali lagi saya hanya menyampaikan aspirasi saya sebagai warga negara yang aktif. Terima kasih.









1 comment:
dhaa
Post a Comment